Aku merupakan seorang wanita muda yang berasal dari sebuah keluarga sederhana namun penuh dengan kebahagiaan. Mempunyai rumah sederhana dengan segala macam kesederhanaan dalam keseharian menjadikanku terbiasa dengan segala macam kekurangan. Namun semua itu tertutup dari sebuah canda tawa yang selalu hadir dalam keseharian keluargaku. melihat seorang ibunda dan ayahanda yang selalu bekerja keras dalam mencukupi keseharian anak-anaknya serta perjuangan menyekolahkan dengan harapan menjadi orang yang sukses dikemudian hari itu adalah cita-cita orangtuaku. Tanpa mengenal lelah beliau bekerja siang dan malam demi memberikan yang terbaik untuk putra putrinya. Mungkin hanya balasan do'a yang bisa aku berikan untuk membalas kebaikan mereka sebelum dapat memberikan kebahagiaan sesungguhnya ketika aku dapat menggapai cita-cita serta harapan mereka.
Ya....tak terasa hari ini adalah hari kelulusanku, menitih jalan pada pagi hari dengan harapan do'a agar mendapatkan yang terbaik. Bunyi bell pun berbunyi, aku segera masuk kedalam kelas bersama 6 sahabat baikku selama menduduki bangku SMA. Tak selang berapa lama guru pun datang dengan membawa sebuah map serta amplop sejumlah siswa yang ada dikelas. Yah....hati ini berdebar disertai dengan kecemasan yang sangat dalam. Satu persatu nama teman-teman semua telah terpanggil dan giliran nama ku dipanggil untuk maju kedepan. Dengan rasa penasaran serta kecemasan aku maju dan ibu guru cantik wali kelasku menyerahkan sebuah amplop dengan senyum manis dibibirnya sambil berkata "semoga mendapatkan yang terbaik ya chintya". Tak lama aku pun langsung kembali ke tempat dudukku dengan membaca Bismillah aku langsung membuka dan mengeluarkan sebuah kertas yang bertuliskan namaku. Segera aku membaca dan Alhamdulillah aku dinyatakan LULUS, ehm...senangnya hatiku ketika mengetahui hasil kelulusan hari ini.
Tak lama dari belakang ada yang menepuk bahuku
"eh....melamun aja kamu, gimana hasilnya lulus nggak?" kata Hafids. Dengan senyuman aku membalas pertanyaan itu, lalu dia duduk disebelahku "yach kamu ini kebiasaan deh, setiap ditanyain pasti jawabannya cuman disenyumin doang". Hafids merupakan salah satu dari 6 sahabat terbaikku selama berada disekolah. "Apaan sih kamu fidz, iya alhamdulillah aku lulus terus gimana dengan kamu? Pasti lulus juga kan?" jawabku. "Ya iyalah masak anak ganteng dan coll kayak gini nggak lulus. Eh ngomong-ngomong kamu tau nggak apa bedanya kamu dengan kertas ini?" tanya Hafidz. "Apaan sich kamu fids pasti ngegombal lagi dech, emang dasar cowok gombalan yach semua cewek pasti di gombalin!" jawabku
setelah itu dilanjutkan dengan obrolan hangat penuh canda tawa sebagai sahabat dekat atau bisa dibilang STM dech (Sahabat tapi Mesra) hehehehehe ada aja singkatannya.
Hafids "apaan siapa juga cowok gombal gue ma cowok coll kalie, jadi pantesan aja cewek-cewek pada ngedeketin gue. hahahahahaha"
Chintya "iya emang dasar loe juga kan suka ngedeketin dan dideketin cewek?" sambil tepok jidat.
Hafids "beneran enggak ya cin...., jawab dong pertanyaan aku tadi tau nggak apa bedanya?" sambil mukanya dihadapin kedepan muka chintya
Chintya "iya enggak tahu nyerah dech...."
Hafids "bedanya itu kalau kertas ini berisikan tinta hitam, tapi kalau kamu selalu mengisi hari-hariku dengan penuh kenangan."
Chintya "ye....emang cuman aku aja kan banyak juga ada nur, meilan, aji, susan, andi, veni mereka juga memberikan kenangan yang tidak terlupakan selama sama-sama disekolah ini. Pasti nanti kangen dech kita nggak kumpul-kumpul lagi seperti biasa." jawab chintya dengan suara sedih.
Hafids "apaan sih kamu cin, ya enggaklah masih bisalah kita pergi main sama-sama lagi." sambil mengusap kepala chintya yang tertutup hijab.
Chintya dari dulu memang anak yang lempeng aja, cuman memikirkan sekolah tanpa ada temen deket lain atau pacar seperti sahabat-sahabatnya yang lain. Setelah semua terbagi amplop kelulusan terdengar suara ibu Tia memanggil. "Chintya temui ibu dikantor ya!" "baik bu."
Hafids dengan rasa keponya dari dulu lantas bertanya "emang ada apa kamu cin disuruh ke kantor? jangan-jangan kamu ngelakuin yang aneh-aneh ya?" tanyanya sambil bercanda. "Apaan sih fids ada-ada aja kamu. Ya udah aku kekantor dulu ya" langsung aku tinggalkan hafids.
"Assalamualaikum, ibu Tia ada apa memanggil Chintya?" tanyaku dengan rasa penasaran. "Sini kamu duduk dulu!" dengan suara khas yang hangat bu Tia menjawab tanyaku. Akupun langsung duduk tepat didepan ibu Tia dengan rasa penuh penasaran ada apa sampai-sampai dipanggil kekantor. Dengan senyum ibu tia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari laci yang langsung disodorkan didepanku dan terlihat sangat jelas disana ada tulisan namaku Chintya Paraswati. "apa itu bu?" tanyaku dengan penasaran. "ini untuk kamu, Alhamdulillah kamu mendapatkan beasiswa di salah satu Universitas di Bandung." dengan senyum bahagia bu Tia mejelaskan isi amplop tersebut. tapi chintya masih heran "tapi bu... chintya kan belum ada daftar kuliah kemana-mana? kok bisa chintya bisa mendapatkan beasiswa ini?" tanya chintya dengan penuh penasaran. "iya kamu bisa mendapatkan beasiswa ini dengan kategori beasiswa untuk siswa berprestasi. dan Alhamdulillah rezeki kamu chintya tahun ini." jawab bu Tia dengan penuh meyakinkan. "Alhamdulillah....baik bu, terimakasih atas kabar baik ini dan bimbingan ibu selama chintya bersekolah disini" jawabku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
akupun meninggalkan ruangan ibu Tia dan berjalan kembali ke kelas, ternyata di kelas sudah ada berkumpul 6 sahabatku mereka sedang duduk dikursi berdekatan dengan cerita penuh canda tawa. "Hai....seru amat ceritanya, mana nich temen-temen yang lain kok udah sepi amat kelas ini?" tanyaku setelah sampai didalam kelas. "udah pada pulang..." jawab aji
Meilan "ya udah kita mau kemana nich? apa langsung pulang aja, anterin aku pulang dong...."
Susan "ah...nggak seru kalau langsung pulang, nongkrong aja yuk bentar lagi kita udah jarang ketemu pasti buat kangen...."
Aji "eh...boleh jugai itu, mending kita pergi main dulu yuk. Gimana yang lain stuju nggak?"
oke...oke... jawab serentak dari teman-teman yang lain.
Hafids "Cin sini duduk, kamu diapain tadi dama ibu Tia?" tanya hafids masih dengan penuh rasa penasaran.
Veni "iya kamu disuruh ngapain sih? sampai dipanggil kekantor. Cerita dong...."
Andi "he em" sambil menganggukkan kepala
Chintya "cie...pada kepo semua ya? hahahahaha" sambil mengeluarkan amplop warna coklat yang diberikan tadi "ini dia....." dengan penuh semangat "Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa kuliah di Bandung" jawab chintya
Meilan "wah...hebat kamu cin, kok bisa?"
Chintya "iya Alhamsulillah ibu Tia bilang ini aku dapat dari beasiswa prestasi"
Susan "wah...selamat ya...." sambil memeluk
Hafids "oh....gitu, Alhamdulillah ya" dengan nada agak sedih
Aji "loe ngapain fids, kayak sedih dari nadanya bukan ikutan seneng temen dapat beasiswa. Seharusnya kamu bangga dong" cletus Aji
Hafids "seneng pasti tapi sedih juga iya, karena pasti kita akan terpisah kemana-mana habis ini"
Veni "masak.....?" sambil bercanda
Meilan "jangan-jangan kamu fids.......?" candaan meilan
Chintya "apaan sih kita kan semua bakalan sedih pasti udah jarang bisa berkumpul lagi seperti ini" sambil merangkul hafids sama susan yang berada duduk bersebelahan
Akhirnya semua serentak mengambil tas masing-masing dan berjalan bersama-sama. "Cin boncengan sama aku aja, nanti bisalah aku anter kamu pulang" ajak hafids. "Aku mah sama siapa aja hayok, yang penting ada yang boncengin dan antar pulang" jawab chintya.
Andi "ya udah kita mau kemana nich? tanya Andi
Aji "ke bukit dekat rumahku aja yuk, disana enak untuk duduk sambil lihat pemandangan yang indah" ajak Aji
boleh...boleh jawab teman-teman yang lain. Mereka memutuskan untuk berkumpul dahulu sebelum pulang kerumah masing-masing di dekat rumah Aji.
Selang sekitar 25 menit, akhirnya mereka semua sampai didekat rumah Aji. Dengan canda tawa hari itu memenuhi kebahagiaan semua sahabat yang nantinya akan sibuk dengan kegiatan masing-masing setelah mendapatkan ijazah masing-masing. Seiring dengan waktu tak teras sudah menunjukkan pukul 15.00 wib, semua tersadar ketika mendengar adzan ashar.
Chintya "eh...nggak terasa udah sore, sholat dulu yuk baru kita pulang" ajak Chintya
Susan "iya kita sholat dulu langsung pulang sudah itu" jawabnya.
semua melaksanakan sholat secara berjamaah, setelah itu berpamitan pulang kepada orang tua Aji.
Diperjalanan akhirnya semua berpisah karena sudah sore dan masing-masing mengantarkan teman-teman yang diboncenginnya untuk pulang kerumah. Sebelum sampai rumah chintya ditengah perjalanan hafids bertanya "cin kamu beneran mau ambil beasiswa kuliah itu?" "iya, emangnya kenapa?" jawab chintya
Hafids "enggak papa sih, cuman jauh aja gitu."
Chintya "iya sih...cuman ini kesempatan tidak semua bisa mendapatkannya, siapa tahu berawal dari beasiswa ini bisa membuka pintu rezeki dan membahagiakan kedua orangtuaku" jawab chintya dengan pemikiran dewasanya
Hafids " jadi kapan kamu mau pergi ke bandungnya?"
Chintya "belum tau juga, cuman nanti tanya dulu lah sama bunda dan ayah."
Hafids "semoga dilancarkan semuanya ya..."
Chintya "Amin..., fids kamu baru sakit ya?"
Hafids "enggak...emangnya kenapa?"
Chintya "tu muka kamu pucat, seperti hatiku yang pucat kalau tak ada kamu...hahahahaha" celoteh chintya.
Hafids "cie...yang sekarang udah ketularan bisa ngerayunya. hahahahah" goda hafids ke chintya
sudah sampai rumah chintya, hafids mematikan mesin motornya dan berjalan dibelakang chintya untuk mengantarkan dan berpamitan ke orangtua chintya.
Chintya "Assalamualaikum, bunda ayah"
Bunda "Waalaikumsalam, udah pulang nak diantar sama siapa?"
Chintya "itu sama hafids, ada didepan tuh bun mau pamitan sama bunda dan ayah"
Bunda "ayah baru keluar." jawab bunda sambil berjalan ke arah pintu depan "hafids nggak mau masuk dulu nak?"
Hafids "nggak usah tante, ini mau langsung pamitan pulang aja soalnya sudah sore" sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman berpamitan pulang.
Bunda "baiklah kalau gitu, hati-hati dijalan ya."
Hafids "baik tante makasih" "Cin pulang dulu ya..." pamit hafids ke chintya
Chintya "oke deh, hati-hati dijalan ya...kalau ada belokan jangan lupa belok" jawab chintya sambil menggoda hafids
brem...brem....hafids menghidupkan motornya, sambil membunyikan klakson hafids menarik gas motor dan melaju pergi.
Bunda "kamu darimana nak? jam segini baru pulang?" tanya bunda
Chintya "tadi main kerumah Aji dulu bun sama hafids, andi, meilan, susan,veni sama nur bun"
Bunda "kamu sepertinya deket sama hafids, jangan-jangan anak bunda udah berani pacaran ya?"
Chintya "bunda apaan sih..." sambil berjalan untuk menyimpan tas dan sepatu.
=============== Bersambung =================
